بسم الله الرحمن الرحيم
ANTARA AKIDAH DAN AKHLAK
Oleh: Muhammad Auliya’ Urrohman
“Tidak Ada Orang yang Sholih yang Dibenci Karena Akhlak”
Ruhayyim pernah berkata kepada anaknya,”ij’al amalaka milhan waj’al adzabaka dzaqiiqon”.
Nak,”kalau kamu sedang mengadon tepung, jadikanlah amal kebaikanmu, amal ibadahmu, layaknya garam”. Jadikanlah adab dan akhlak yang kamu miliki yaitu sebagaimana tepung.
Padahal kita sepakat, kalau ada adonan, kemudian dicampur dengan garam yang paling banyak itu adalah tepungnya, garam hanya memberikan rasa. Ruhayyim saat itu berkata kepada anaknya yang saat anaknya membaca kitab. Menggambarkan betapa luhurnya islam ketika meletakkan Akhlak menjadi cermin dalam kehidupan Akidah. Kita kembali kepada apa yang dijelaskan oleh Abdul Mubarak, “kuntu ta’allamtul ‘ilma ’isyriina sanatan wa ta’allamtul adab tsalaatsiina sanatan”. Aku ini belajar ilmu fikih, hadist itu Cuma belajar 20 tahun, tapi ketika aku mempelajari adab dan akhlak, maka sesungguhnya aku mempelajarinya selama 30 tahun.
Cukup? Belum!!!
Imam Syafi’i berkata : siapapun manusia yang ingin dilapangkan hatinya, diberikan cahaya di dalam jiwanya maka,
1. Hendaklah kemudian dia khalwah, berduaan dengan Allah. Jangan banyak berduaan dengan makhluk, karena sesungguhnya ketika kita berduaan dengan Allah itu memberikan rasa yang manis ke dalam iman kita
2.“watarku syubha” tinggalkan orang yang tidak memberikan manfaat untuk akhirat dan dunianya, orang yang bodoh.
3. “wa qillatul ‘akly” sedikit makannya. Dan ditutup oleh beliau,
4. “wa bughdhu ahlul ilmi alladzi laisa ma’ahum inshobun wa laa adaabun”.
Benci itu orang yang berilmu siapapun orang yang berilmu, kalau tidak tampak akhlaknya, tidak tampak adabnya didalam lisan dan perbuatannya, benci mereka, karena mengikuti mereka itu merusak kehidupan iman.
Dalam kehidupan akidah itu bagaimana kita menjaga akhlak kita yang terbaik. Akhlak dan aqidah tidak pernah terpisah. Kalau ada orang yang punya akhlak dan tidak punya aqidah kepada Allah berarti rusak, karena akhlaq kepada Allah rusak. Tapi kalau ada orang yang punya aqidah yang benar, pasti cerminnya itu adalah memantulkan akhlaq yang benar. Karena apa? Aqidah tidak memantulkan kecuali akhlaq yang mulia.
Inilah yang menjadi ruh kehidupan dakwahnya Nabi dan Para Sahabat. Makanya kita sepakat, nabi itu dibenci karena kebenaran. Sepakat Nabi itu dibenci karena kebenaran. Tapi Nabi tidak dibenci karena akhlaq.
Para salaf, Sahabat dan para Tabi’in, sepakat mereka dibenci oleh orang yang mengingkari mereka, tapi mereka dibenci karena kebenaran bukan karena akhlaq. Karena kalau saya dan bapak, antum dibenci karena aqidah (Ahlu Sunnah wal Jaa’ah) antum beruntung, berarti antum berada di fitrah kebenaran untuk dibenci. Tapi kalau ana dan antum dibenci karena akhlak maka itu musibah, karena tidak ada orang yang sholih yang dibenci karena akhlaq.
أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا
“orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya” (HR Ahmad)

0 komentar:
Posting Komentar